Topan Maysak memicu banjir besar di Guangxi, China, pada Juli 2026. Bencana tersebut menewaskan 159 orang dan menyebabkan 10 orang lainnya hilang.
Lebih dari 1,6 juta penduduk terdampak, sementara sekitar 320.000 orang harus dievakuasi. Banjir merendam sejumlah wilayah perkotaan dan menyebabkan beberapa bendungan jebol.
Banjir meluas menerjang sejumlah negara di Afrika bagian selatan, termasuk Mozambik, Zimbabwe, dan Afrika Selatan. Bencana tersebut menewaskan lebih dari 300 orang dan menyebabkan kerugian ekonomi lebih dari 1,1 miliar dollar AS. Rumah-rumah dan lahan pertanian turut terendam akibat banjir.
Banjir bandang dan longsor menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet pada 26 Agustus. Arus deras membawa material es, lumpur, dan puing hingga menyapu permukiman, jalan, jembatan, serta sejumlah fasilitas pembangkit listrik tenaga air.
Kantor berita AFP pada Sabtu (30/8/2026) melaporkan, sedikitnya 682 orang telahh dipastikan meninggal dunia dalam bencana banjir Nepal-Tibet, sementara hampir 2.400 orang masih dinyatakan hilang.
Eropa dilanda empat gelombang panas berturut-turut sepanjang Juni hingga Agustus. Suhu di sejumlah negara bahkan menembus 40 derajat Celsius.
Gelombang panas tersebut dikaitkan dengan sedikitnya 35.000 kematian berlebih di sejumlah wilayah Eropa. Namun, angka tersebut merupakan estimasi excess deaths, yakni jumlah kematian yang melebihi angka normal pada periode tertentu. Karena itu, tidak semua kematian tersebut dapat dipastikan secara individual disebabkan oleh panas.
Dilansir dari Kompas.com, Minggu (16/8/2026), gempa M 7,7 terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 05.58 WITA. United States Geological Survey (USGS) mencatat pusat gempa berada di kedalaman dangkal sekitar 10 kilometer, berjarak 68 kilometer arah utara-barat laut Ende, NTT.
Sedikitnya 47 orang meninggal dunia (data sementara diperkirakan terus bertambah), lebih dari 50 orang dilarikan ke rumah sakit, dan sekitar 2.000 warga mengungsi. Selain itu, dilaporkan Sebanyak 157 rumah hancur rata dengan tanah, sekitar 200 rumah rusak, dan lebih dari 100 fasilitas umum rusak hingga hancur.
Jalan Trans-Flores sepanjang 700 kilometer, mengisolasi wilayah seperti Nagekeo. Tercatat lebih dari 235 gempa susulan (aftershocks), dengan gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2. Peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan usai terdeteksi kenaikan gelombang laut setinggi 1,61 meter di Riung dan 0,94 meter di Maurole, Kabupaten Ende, sebelum akhirnya dicabut. Lokasi gempa bumi Flores ini berdekatan dengan pusat bencana gempa dan tsunami Flores tahun 1992 yang menewaskan sekitar 2,500 jiwa. Selain itu, pada hari yang sama, gempa terpisah M 6,9 juga mengguncang Sumatera Utara, tetapi tidak menimbulkan kerusakan berarti karena berkedalaman sangat dalam (172 km).
Pada pertengahan 2025, cuaca panas ekstrem dan kondisi lahan yang mengering memicu kebakaran hutan dan lahan di Sulawesi Selatan. Berdasarkan laporan resmi, totalnya ada 474,91 hektare lahan terbakar.
Kondisi ini diperparah oleh kebiasaan pembakaran sisa panen yang akhirnya menjalar ke lahan kering di sekitarnya. Kabupaten Pinrang menjadi wilayah paling terdampak dengan luas kebakaran mencapai 311,01 hektare.
Selain itu, titik api juga ditemukan di Sidrap, Wajo, Enrekang, Luwu Timur, dan Luwu. Tidak hanya merusak ekosistem, asap yang dihasilkan mulai mengganggu kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lansia.
Curah hujan yang rendah membuat api cepat membesar dan sulit dikendalikan. Petugas pemadam kebakaran bekerja ekstra keras karena akses ke lahan yang terbakar sering kali sulit.
Banyak area APL (Areal Penggunaan Lain) yang tidak memiliki sumber air terdekat, sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama.
Pada 8 Februari 2025, banjir bandang menerjang wilayah Demak setelah hujan deras, membuat sungai meluap dan memengaruhi permukiman padat penduduk.
Air naik dengan cepat hingga membuat warga tidak sempat menyelamatkan harta benda, dan beberapa desa terendam hingga lebih dari satu meter.
BPBD Demak mencatat 547 jiwa mengungsi ke berbagai lokasi aman seperti balai desa, musala, pondok pesantren, hingga rumah warga yang tidak terdampak.
Banyak keluarga membawa barang seadanya karena banjir datang secara tiba-tiba. Para lansia dan anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan selama masa tanggap darurat.
Secara keseluruhan, 21 desa di tiga kecamatan masih terendam air pada hari pertama banjir. Total warga terdampak mencapai 56.785 jiwa, sementara lebih dari 4.500 rumah tergenang air.
Kondisi ini membuat aktivitas harian lumpuh dan akses logistik terhambat. Di Desa Prampelan, ketinggian air mencapai 30 cm hingga lebih dari satu meter.
Warga harus menggunakan perahu untuk berpindah lokasi. Bencana ini menunjukkan bahwa wilayah pesisir Demak semakin rentan banjir, terutama ketika hujan ekstrem terjadi bersamaan dengan pasang laut.
Awal tahun 2025, Pekalongan mengalami kombinasi bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi secara bersamaan. Hujan deras yang mengguyur Kecamatan Petungkriyono membuat tebing-tebing tidak dapat menahan volume air, hingga akhirnya longsor terjadi dan menimpa beberapa rumah warga.
Kondisi malam hari membuat banyak warga tidak menyadari bahaya yang sedang mengancam. Longsoran besar menimpa sebuah kafe dan dua rumah, sementara banjir mendadak menyeret kelompok pemancing di tepi sungai.
Total 20 orang meninggal dunia dan puluhan mengalami luka. Banyak keluarga kehilangan tempat tinggal dalam waktu singkat karena struktur bangunan tidak mampu menahan tekanan material longsor.
Peristiwa ini menunjukkan kerentanan kawasan lereng di Jawa Tengah ketika hujan ekstrem berlangsung terus-menerus. Edukasi mitigasi kembali ditekankan agar warga lebih waspada ketika cuaca buruk datang.
Sebuah insiden tragis terjadi di Garut pada 12 Mei 2025 ketika proses pemusnahan amunisi kedaluwarsa berakhir dengan ledakan besar.
Lokasi yang digunakan oleh Puspalad sebenarnya rutin dipakai untuk kegiatan serupa, tetapi kali ini ledakan terjadi secara tiba-tiba saat petugas mulai menangani lubang sumur tambahan berisi detonator.
Situasi yang berlangsung cepat tidak memberi waktu bagi tim untuk menyelamatkan diri. Peristiwa tersebut menewaskan 13 orang, termasuk empat anggota TNI AD dan sembilan warga sipil.
Kehadiran warga sipil di area terbatas ini memunculkan banyak pertanyaan mengenai standar keselamatan dan pengaturan jarak aman dalam proses pemusnahan amunisi. Banyak pihak menilai bahwa seharusnya area tersebut steril, sehingga risiko korban tambahan dapat diminimalkan.
Ledakan yang tidak terduga ini juga menimbulkan kepanikan warga sekitar. Suara dentuman terdengar hingga radius beberapa kilometer dan membuat masyarakat berhamburan keluar rumah.
Tidak hanya korban jiwa, ledakan tersebut turut merusak fasilitas di sekitar lokasi dan menyisakan puing-puing amunisi yang berserakan. Setelah kejadian, evaluasi besar-besaran dilakukan terhadap prosedur pemusnahan amunisi agar insiden serupa tidak terulang.
TNI AD menegaskan akan memperketat pengamanan dan memastikan masyarakat tidak berada di sekitar area pemusnahan. Peristiwa ini menjadi catatan penting mengenai pentingnya standar keselamatan dalam aktivitas berisiko tinggi.
Bali sempat menghadapi situasi darurat setelah hujan deras tanpa henti pada 9–10 September 2025 yang memicu banjir bandang di berbagai wilayah.
Bencana ini menyebabkan sedikitnya 18 orang meninggal dunia. Banyak keluarga yang tidak sempat melakukan evakuasi mandiri karena arus air bergerak cepat dan menghantam wilayah padat penduduk.
Selain menyebabkan korban jiwa, banjir juga menimbulkan banyak kerusakan pada berbagai fasilitas umum maupun bangunan warga. Pemprov Bali mencatat adanya 521 titik banjir, dengan Kota Denpasar menjadi wilayah dengan kondisi paling parah.
Kawasan Pasar Badung dan sepanjang Sungai Badung mengalami luapan besar hingga membuat beberapa bangunan usaha roboh, termasuk dua toko kain di Jalan Sulawesi.
Kabupaten lain seperti Jembrana, Gianyar, Badung, Tabanan, Karangasem, dan Klungkung juga melaporkan genangan besar yang merusak rumah, infrastruktur, hingga akses jalan.
Tak hanya banjir, 95 titik longsor turut terjadi di beberapa kabupaten. Sementara itu, lebih dari 562 warga terpaksa mengungsi dan memanfaatkan sekolah, balai desa, musala, serta banjar sebagai tempat perlindungan sementara.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Bali tak hanya rawan bencana gunung api, tetapi juga banjir dan longsor ketika intensitas hujan meningkat.